Selasa, 31 Januari 2017

EROTOMANIA


jeng jeng jeng ini dia janji cuma DIARY di post sebelumnya, selamat menyimak.

Menurut sebuah akun social media, Erotomania adalah sebuah penyakit dimana penderitanya meras seseorang mencintainya padahal tidak, lebih jelasnya berikut ini pengertian erotomania menurut Wikipedia.

Erotomania is a type of delusional disorder where the affected person believes that another person is in love with him or her. This belief is usually applied to someone with higher status or a famous person, but can also be applied to a complete stranger.

Nah, singkatnya Erotomania lebih ke perasaan seseorang  bahwa ia dicintai oleh lawan jenisnya padahal kenyataannya tidak demikian. Mirip-mirip ke BAPER an yak?
Tapi sepertinya Erotomania dinobatkan kepada mereka yang cenderung mengejar seseorang yang mereka anggap mencintainya tanpa lelah, tanpa logika meski sudah ditolak secara halus bahkan dimaki bertubi2. Mengganggu sekali orang tipe ini. Pernah ketemu? Pernah.

Kawan Cuma DIARY Siap lanjut baca ceritanya?
Oke. Lanjuuuuut 

Kadang kita bersikap baik kepada lawan jenis, memberi bantuan tanpa dimintanya, menanyai kabar jika lama tak bertemu, mengingatakan jadwal kegiatannya atau bersama2 menyelesaikan tugas bahkan hang out bareng, bercanda ria. Tiada hari tanpa komunikasi. Dan seluruh rangkaian itu kita lakukan semata2 karena merasa nyaman bersahabat dengannya. TULUS tanpa MODUS. Sebaliknya teman lawan jenis tadi berlaku sama kepada kita. Namun, tak dinyana si dia menganggap perlakuan itu istimewa. Dan merasa bahwa kita menganggapnya special. 

“Aku mau melamarmu, kamu sudah siapkan?” tiba2 si erotomania memborbardir, mengacak2 kenyamanan salah satu cewek. Bingung dong mau jawab apa.
“Kok kamu bisa tiba2 bilang gitu?”
“iya dong, kita sudah lama kenal, saling perhatian dan aku sayang sama kamu, kamu juga sayang aku kan. Aku gak mau nunda lama2. Kita nikah ya.”
 “iya, aku tau kita TEMENAN udah lama. Tapi………. Ya udah deh aku pikirin dulu ya. Lagian aku belum mau nikah dalam waktu dekat. So, kalo emang jodoh in syaa Allah kita akan di persatukan.” 

Jawaban diplomatis ala-ala akhwat kece katanya.
Inilah kenyataannya bahwa sebagian besar perempuan tidak tega menolak pernyataan cinta seorang pria. Namun, dalam kata2nya yang diplomatis “kalo jodoh……” itulah tersirat bahwa maaf saya tidak merasakan hal yang sama jadi lupakan saja, kalo ada cewek lain sono nikah aja sama dia. Kasar banget tapi kata2 itu, tak pantas di ungkapkan kepada seorang yang sudah lama dikenal. Kata2 halus menenanngkan itu merupakn penolakan menurut si “tertembak” tapi menurut sang pencinta kata2 tadi adalah harapan bahwa cintanya bersambut.

Baiklah terlepas dari itu semua ternyata si erotomania ini pantang menyerah lagi dan lagi ia ungkapkan perasaannya. Bahkan ada yang nekad melamar di atas lamaran lelaki pilihan si cinta. Yaa akhirnya dia merasa di khianati, karena merasa dicintai juga tapi malah ditinggal menikah dengan yang lain. Ah kasihan sekali si erotomania. Oya orang tipe ini katanya kebanyakan laki2. Tapi menurutku perempuan pun banyak yang menderita erotomania.
Note: Menurut salah seorang tmapn lebih baik ia ditolak secara terus terang meski menyakitkan daripad di beri jawaban diplomatis seolah2 memberi harapan. Dilema nih buat si cantik yang gak tegaan.

Yuuuk ah move on. Jangan terjebak perasangka sendiri. Jika harapan dan angan tak bersambut maka kiamatlah dunia. Hooho
Maka, pesan Cuma DIARY adalah lebih baik jaga hati, jaga pandangan, jangan berkhalwat pun hanya lewat dunia maya. Jika cinta namun belum siap menikahi maka sampaikanlah lewat doa. Jika cinta namun tak bernyali menikahi maka ikhlaskanlah. Jika cinta namun tak berani nekad melamar (bagimu hai cantik) maka adukan pada sang Khaliq dan yakinlah bahwa Dia akan mengirimkan sosok tampan, mapan lagi beriman kepadamu suatu hari nanti.
 Taaruf adalah jawaban segala gundah bila telah siap. No baper-baper apalagi caper-caper. 
 End

 note:cuma DIARY tidak melakukan research mendalam mengenai erotomania so kalo ada salah sana-sini yaaah namanya cuma DIARY harap maklum

**Apa itu taaruf, bagaimana dan seperti apa kisah mereka yang pernah menjalaninya?
Next time in syaa Allah I’ll tell what I’ve found about it.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar