jeng jeng jeng ini dia janji cuma DIARY di post sebelumnya, selamat menyimak.
Menurut sebuah akun social media, Erotomania adalah sebuah
penyakit dimana penderitanya meras seseorang mencintainya padahal tidak, lebih
jelasnya berikut ini pengertian erotomania menurut Wikipedia.
Erotomania is a type of delusional
disorder where the affected person believes that another person is in love with
him or her. This belief is usually applied to someone with higher status or a
famous person, but can also be applied to a complete stranger.
Nah, singkatnya Erotomania lebih ke perasaan
seseorang bahwa ia dicintai oleh lawan
jenisnya padahal kenyataannya tidak demikian. Mirip-mirip ke BAPER an yak?
Tapi sepertinya Erotomania dinobatkan kepada
mereka yang cenderung mengejar seseorang yang mereka anggap mencintainya tanpa
lelah, tanpa logika meski sudah ditolak secara halus bahkan dimaki bertubi2.
Mengganggu sekali orang tipe ini. Pernah ketemu? Pernah.
Kawan Cuma DIARY Siap lanjut baca ceritanya?
Oke. Lanjuuuuut
Kadang kita bersikap baik kepada lawan jenis,
memberi bantuan tanpa dimintanya, menanyai kabar jika lama tak bertemu,
mengingatakan jadwal kegiatannya atau bersama2 menyelesaikan tugas bahkan hang
out bareng, bercanda ria. Tiada hari tanpa komunikasi. Dan seluruh rangkaian
itu kita lakukan semata2 karena merasa nyaman bersahabat dengannya. TULUS tanpa
MODUS. Sebaliknya teman lawan jenis tadi berlaku sama kepada kita. Namun, tak
dinyana si dia menganggap perlakuan itu istimewa. Dan merasa bahwa kita
menganggapnya special.
“Aku mau melamarmu, kamu sudah siapkan?”
tiba2 si erotomania memborbardir, mengacak2 kenyamanan salah satu cewek.
Bingung dong mau jawab apa.
“Kok kamu bisa tiba2 bilang gitu?”
“iya dong, kita sudah lama kenal, saling
perhatian dan aku sayang sama kamu, kamu juga sayang aku kan. Aku gak mau nunda
lama2. Kita nikah ya.”
“iya,
aku tau kita TEMENAN udah lama. Tapi………. Ya udah deh aku pikirin dulu ya.
Lagian aku belum mau nikah dalam waktu dekat. So, kalo emang jodoh in syaa
Allah kita akan di persatukan.”
Jawaban diplomatis ala-ala akhwat kece katanya.
Inilah kenyataannya bahwa sebagian besar
perempuan tidak tega menolak pernyataan cinta seorang pria. Namun, dalam
kata2nya yang diplomatis “kalo jodoh……” itulah tersirat bahwa maaf saya tidak
merasakan hal yang sama jadi lupakan saja, kalo ada cewek lain sono nikah aja
sama dia. Kasar banget tapi kata2 itu, tak pantas di ungkapkan kepada seorang
yang sudah lama dikenal. Kata2 halus menenanngkan itu merupakn penolakan
menurut si “tertembak” tapi menurut sang pencinta kata2 tadi adalah harapan
bahwa cintanya bersambut.
Baiklah terlepas dari itu semua ternyata si
erotomania ini pantang menyerah lagi dan lagi ia ungkapkan perasaannya. Bahkan
ada yang nekad melamar di atas lamaran lelaki pilihan si cinta. Yaa akhirnya
dia merasa di khianati, karena merasa dicintai juga tapi malah ditinggal
menikah dengan yang lain. Ah kasihan sekali si erotomania. Oya orang tipe ini
katanya kebanyakan laki2. Tapi menurutku perempuan pun banyak yang menderita
erotomania.
Note: Menurut salah seorang tmapn lebih baik
ia ditolak secara terus terang meski menyakitkan daripad di beri jawaban
diplomatis seolah2 memberi harapan. Dilema nih buat si cantik yang gak tegaan.
Yuuuk ah move on. Jangan terjebak perasangka
sendiri. Jika harapan dan angan tak bersambut maka kiamatlah dunia. Hooho
Maka, pesan Cuma DIARY adalah lebih baik
jaga hati, jaga pandangan, jangan berkhalwat pun hanya lewat dunia maya. Jika
cinta namun belum siap menikahi maka sampaikanlah lewat doa. Jika cinta namun
tak bernyali menikahi maka ikhlaskanlah. Jika cinta namun tak berani nekad
melamar (bagimu hai cantik) maka adukan pada sang Khaliq dan yakinlah bahwa Dia
akan mengirimkan sosok tampan, mapan lagi beriman kepadamu suatu hari nanti.
Taaruf adalah jawaban segala gundah bila telah
siap. No baper-baper apalagi caper-caper.
End
note:cuma DIARY tidak melakukan research mendalam mengenai erotomania so kalo ada salah sana-sini yaaah namanya cuma DIARY harap maklum
**Apa itu taaruf, bagaimana dan seperti apa
kisah mereka yang pernah menjalaninya?
Next time in syaa Allah I’ll tell what I’ve
found about it.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar